Catatan Redaksi: LAI menerima beberapa surat berisi pertanyaan yang sama, yaitu mengenai kontroversi yang baru-baru ini diciptakan seputar penggunaan kata Allah dan TUHAN. Karena itu izinkan kami menuliskan jawaban di bawah ini untuk semua. Terima kasih kami ucapkan pada mereka yang sudah menulis, juga kepada yang telah melampirkan traktat. Surat-surat ini kami anggap sebagai sebentuk perhatian yang hendak diungkapkan kepada pekerjaan pelayanan Lembaga Alkitab Melayu.

Penggunaan kata Allah dan Tuhan

Pembaca yang baik,

Kami ingin mengawali surat ini dengan sebuah cerita tentang seorang dewa. Dewa ini dianggap sebagai pemimpin para dewa sekaligus dipahami selaku bapa dan pencipta. Dalam posisi seperti ini, sang dewa berkuasa untuk mengatur kehidupan, baik manusia maupun para dewa. Nama dewa yang adalah pemimpin, pencipta, dan bapa ini adalah El. Dewa El sangat dikenal oleh masyarakat Timur Tengah pada abad-abad yang lalu. Beberapa bahasa lain dalam rumpun bahasa Semit menyebutnya sebagai ‘ilu atau ‘il.

Salah satu bahasa dalam rumpun Semit adalah bahasa Ibrani yang dipakai oleh bangsa Israel. Di masyarakat Israel ‘ilu atau ‘il dikenal dengan nama El. El dipakai dalam Perjanjian Lama lebih dari 50 puluh kali untuk menunjuk pada sembahan bangsa Israel. Kata Ibrani ini lalu diterjemahkan sebagai Allah (Melayu), God (Inggris), Gott (Jerman), Dieu (Perancis).

Dalam kaitannya dengan hal ini, beberapa surat yang kami terima menyatakan keberatan terhadap dua hal: (1) menerjemahkan elohim sebagai Allah, (2) menerjemahkan YHWH sebagai TUHAN. Kita mulai dengan yang pertama yakni menerjemahkan el, eloah, elohim sebagai "Allah". Mari kita membahas tiga kata ini satu persatu, pertama adalah El. Seperti halnya bangsa-bangsa di sekitar Timur Tengah, umat Israel juga memakai kata El untuk menyebut nama sembahan mereka. Tetapi, El dalam pemahaman mereka ini sama sekali berbeda dengan pemahaman bangsa-bangsa Semit lainnya. Umat Israel memberi ciri tersendiri pada konsep tentang El mereka. Sehingga sekalipun kulitnya (nama) berasal dari luar, tetapi isinya (pemahaman tentang-NYA) telah dibuat menjadi khas Israel dan agama mereka. Perjanjian Lama mencatat penggunaan kata El sebagai petunjuk baik nama pribadi maupun sebagai gelar.

Kedua, kata eloah yang secara tata bahasa juga berbentuk tunggal. Tetapi, dibandingkan dengan El, Eloah lebih jarang muncul dalam PL. Eloah juga dalam banyak versi diterjemahkan sebagai Allah (Melayu), God (Inggris), Gott (Jerman), Dieu (Perancis).

Eloah dalam bentuk jamak menjadi Elohim, sedangkan El menjadi Elim. Teks PL tidak pernah menggunakan kata Elim, sedangkan Elohim muncul banyak sekali di banyak tempat dalam PL. Sekalipun berbentuk jamak, Elohim dipakai untuk menunjuk pada sembahan umat Israel yang tunggal. Ada dua alasan untuk itu. Pertama, dalam bahasa keagamaan, fenomena seperti ini disebut majestatis pluralis. Kedua, ada juga ahli-ahli PL yang berpendapat, bahwa hal seperti ini memang cukup sering terjadi dalam dunia PL. Beberapa kata benda yang lain juga sekalipun berbentuk jamak, tetapi tetap harus dimengerti sebagai bentuk tunggal. Selain itu, Elohim juga dipakai dalam pengertian jamak. Pada beberapa ayat, elohim harus benar-benar dipahami sebagai bentuk jamak dari el, artinya ilah-ilah. Dalam hal ini berarti ilah-ilah sembahan bangsa lain.

Dari uraian di atas dapat dicatat suatu prinsip penting dalam perkembangan makna suatu kata atau istilah: Suatu kata tertentu dapat berubah arti dari makna semula dan memperoleh makna baru yang berbeda dari makna aslinya itu.

Akhirnya, perkenankan kami menjawab berdasarkan alasan yang dikemukakan oleh pihak yang keberatan menggunakan kata Allah sebagai terjemahan untuk elohim:


Allah adalah nama dewa air bangsa Arab

Mungkin itu artinya dahulu, di suatu tempat di Timur Tengah ribuan tahun yang lalu, tetapi (hampir) tidak ada orang Melayu sekarang yang menghubungkan kata Allah dengan dewa air. Di Kamus pun tidak ada yang memberikan kata Allah makna seperti itu. Kalau pun ada, maka itu kamus etimologi, yang menelusuri asal-usul kata dan perubahan-perubahan makna yang terjadi padanya. Bagi orang Kristen, kata Allah menunjuk kepada Allah, Pencipta yang Mahakuasa, yang menyatakan diri-Nya melalui Yesus Kristus.

Istilah "Allah" dalam Perjanjian Lama adalah terjemahan dari kata el, elohim, dan eloah, dan dalam Perjanjian Baru dari kata theos. Seperti diuraikan di atas, "El" mula-mula dikenal sebagai dewa bangsa Kanaan, yang dianggap sebagai kepala para dewa, tetapi orang Israel kemudian memberi pemahaman baru terhadap semua itu. Ketika mereka menyebut El, mereka tidak membayangkannya lagi sebagai seorang dewa bangsa Kanaan, tetapi El yang mereka percayai menurut pemahaman baru mereka. Hal inilah yang kita temukan juga dalam terjemahan Alkitab di berbagai bahasa daerah di Melayu. Perjanjian Lama bahasa Batak menerjemahkan Elohim sebagai "Debata" (Toba) atau "Naibata" (Simalungun). Ketika orang Batak berdoa dan menyebut Debata atau Naibata, mereka tidak membayangkannya sebagai Allah yang lain dari yang mereka kenal di Alkitab.

 

Kata Allah adalah kata yang dipakai oleh kaum muslim dalam Al Qur’an

Komunitas Kristen yang berbahasa Arab seperti yang ada di Lebanon, Palestina dan Mesir, juga menggunakan kata Allah, dan bukan el, elohim, ataupun eloah bila berbicara tentang Yang Mahakuasa. Al Qur’an memang memakai kata Allah, tetapi orang-orang Kristen di Timur Tengah yang sudah menjadi Kristen sebelum munculnya agama Islam telah memakai kata itu jauh sebelumnya. Karena, selama ini bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka. Bahkan sebelum agama Islam muncul, tulisan-tulisan tentang kekristenan sudah memakai kata Allah. Jadi kata Allah sudah terlebih dulu digunakan oleh komunitas Kristen Arab, sebelum digunakan dalam Al Qur’an sehingga alasan di atas tidak mempunyai dasar. Orang Kristen jelas tidak mengambil kata itu dari Al Qur’an. Kalau alasan keberatan menggunakan kata Allah, karena kata tersebut berasal dari bahasa Arab, agaknya kita juga mesti menyadari bahwa bahasa Melayu telah mengadopsi banyak kosa kata Arab, seperti salam, umat, dan lain-lain. Kata-kata Arab ini tidak hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga dalam berbagai misa dan kebaktian, termasuk di dalam Alkitab. Tetapi, kita tidak merasa bahwa dalam kata-kata tersebut terdapat sesuatu yang menganggu iman kristiani kita.


Keberatan kedua pada LAI adalah menerjemahkan YHWH sebagai TUHAN. Cara menerjemahkan seperti ini sebetulnya merujuk pada tradisi lisan yang berlaku di Israel, baik dahulu maupun sekarang. Di Sinagoge, ketika seseorang membaca kitab suci (Perjanjian Lama), ia membaca istilah YHWH yang tertulis dalam teks itu sebagai Adonai, yang berarti "Tuhan(ku)". Alasannya, mereka percaya nama itu (YHWH) sangat suci sehingga tidak bisa disebut sembarangan, sekalipun itu di tengah-tengah ibadah. Begitu kuat tradisi ini sehingga pada waktu tanda-tanda diakritik (yang menandakan huruf hidup) diperkenalkan dalam teks konsonan Ibrani, untuk YHWH dicantumkan tanda-tanda diakritik untuk Adonai. Tradisi lisan ini dilanjutkan dengan tradisi terjemahan sejak zaman sebelum Masehi. Ketika Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada abad ketiga dan kedua sebelum Masehi, para penerjemah menerjemahkan kata YHWH dan Adonai kedua-duanya dengan Kyrios, Tuhan. Cara penerjemahan seperti ini telah diikuti dalam banyak bahasa, sehingga YHWH diterjemahkan dengan LORD dalam bahasa Inggris, HERE dalam bahasa Belanda, dan seterusnya. LAI, dengan mengikuti tradisi ini, menerjemahkan YHWH dengan TUHAN (huruf besar semua) dan Adonai dengan Tuhan (Huruf pertama besar).


Jadi, jelas dari uraian ini tidak perlu mengganti kata Allah, kata yang sudah dikenal umat Kristen sejak dahulu kala, dengan kata Elohim, suatu kata yang asing bagi hampir semua orang Kristen di Melayu. Kalau alasannya karena kata itu menunjuk pada dewa asing (Arab atau lainnya), kata El dan bentuk jamaknya elohim juga mempunyai asal-usul yang sama, tetapi nama itu toh ada di PL? Orang Israel menyembah El, tetapi mereka tidak bermaksud menyembahnya sebagai dewa bangsa Kanaan, melainkan sebagai Tuhan yang mereka kenal dari nenek moyang mereka: Abraham, Ishak, dan Yakub, dan yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir. Begitu juga orang Kristen menyembah Allah, bukan dewa air, melainkan Allah, Bapa Yesus Kristus, Tuhan kita.

Seorang bisa dipanggil dengan nama A, B, atau C, tetapi pribadinya tetap satu. Sesuatu disebut sebagai TUHAN bukan karena nama dirinya yang ajaib dan lain dari yang lain, tetapi karena diri-NYA dan tindakan-NYA yang maha ajaib bagi manusia. Kita menyembah-NYA bukan terutama karena ia bernama A atau B. Tetapi, karena pengalaman hidup kita menceritakan bagaimana ke-TUHAN-annya berhadapan dengan ke-manusia-an kita. Nama itu penting. Tetapi, bukankah lebih penting lagi bagaimana DIA yang bernama itu. Apakah ketika berdoa memakai kata Allah apakah kita merasa sedang menyembah dewa air atau dewa lainnya? Nama membantu kita menyebut dan menyembah DIA yang kepada-NYA kita beribadah. Tetapi, bukan kepada nama itu (an sich!) kita berdoa melainkan kepada pribadi atau sosok di balik nama itu.

Demikianlah tanggapan dari Lembaga Alkitab Melayu. Kami sunguh berharap permasalahan ini tidak menimbulkan perpecahan di antara umat Kristen di Melayu. Sehingga kita dapat mengarahkan energi dan waktu yang kita miliki kepada hal-hal lain, yang kiranya lebih substansial bagi upaya mendirikan tanda-tanda Kerajaan Allah di tempat di mana kita berada.